Jumat, 19 Mei 2028
Sepakat dengan Roh
Dalam musyawarah kampung, ada kalimat yang melegakan ketika akhirnya diucapkan: "Kita sudah sepakat." Setelah berdebat, adu pendapat, saling potong, tercapailah satu keputusan yang dipikul bersama. Tetapi keputusan manusia selalu menyimpan tanya: apakah kesepakatan ini juga sejalan dengan kehendak Tuhan, atau sekadar suara terbanyak?
Kemarin kita mendengar sidang Yerusalem mengambil putusan. Hari ini putusan itu dituangkan dalam surat, dan ada satu kalimat yang luar biasa berani: "Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami." Perhatikan urutannya. Roh Kudus lebih dulu, baru kami. Para rasul tidak menganggap hasil rapat mereka sekadar politik gereja. Mereka percaya bahwa ketika umat berkumpul, berdoa, dan mencari kehendak Allah dengan jujur, Roh sungguh turut memutuskan.
Ini menghibur sekaligus menantang. Menghibur, karena kita tidak dibiarkan meraba-raba sendirian; Roh menyertai musyawarah yang tulus. Menantang, karena kita tidak boleh memakai nama Roh Kudus untuk mengesahkan kemauan sendiri. Kesepakatan yang benar lahir dari hati yang lebih dulu ditundukkan dalam doa, bukan dari suara yang paling keras.
Ketika kita mengambil keputusan hari ini, di keluarga atau di tempat kerja, sudahkah kita memberi ruang bagi Roh untuk ikut bersuara sebelum kita mengetuk palu?
Roh Kudus, hadirlah dalam setiap keputusanku. Ajarilah aku menundukkan kemauanku, agar kesepakatanku sejalan dengan kehendak-Mu. Amin.