Rabu, 17 Mei 2028
Melekat pada Pokok
Coba potong satu ranting dari pohon di halaman, lalu letakkan di meja. Beberapa jam saja ia masih tampak segar. Tetapi menjelang sore daunnya mulai lemas, dan esok hari sudah kering. Ranting itu tidak dipatahkan orang lain. Ia mati hanya karena satu hal: terlepas dari pohonnya.
Yesus memakai gambar yang sangat membumi ini. "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." Kata kuncinya satu: tinggal. Bukan sesekali menempel, lalu lepas, lalu menempel lagi, melainkan menetap terus. Ranting tidak perlu bersusah payah memaksakan buah. Ia hanya perlu tetap melekat, dan getah dari pokok mengalir sendiri.
Sering kita membalik urutannya. Kita sibuk mengejar buah, hasil pelayanan, hasil kerja rohani, tetapi lupa merawat sambungan dengan pokoknya. Akibatnya kita cepat kering, capek, dan hampa. Buah tidak pernah lahir dari ranting yang tegang, melainkan dari ranting yang tinggal tenang di pokoknya.
Hari ini pertanyaannya bukan sudah berbuah berapa banyak, melainkan masih melekatkah aku pada pokok. Sebab kesuburan hidup rohani bukan soal kerja keras ranting, melainkan soal kesetiaan tinggal.
Tuhan, jadikanlah aku ranting yang tetap melekat pada-Mu, agar hidupku berbuah bukan dari kekuatanku, melainkan dari getah kasih-Mu. Amin.