‹ Semua renungan

Minggu, 7 Mei 2028

Suara di Tengah Riuh

Di pasar yang ramai, seorang anak kecil terpisah dari ibunya. Suara pedagang bersahutan, klakson, tawar-menawar, semuanya bercampur. Tetapi begitu ibunya memanggil namanya dari kejauhan, kepala kecil itu langsung menoleh. Ratusan suara lewat begitu saja di telinganya. Hanya satu yang ia kenali sampai ke tulang: suara ibu.

"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku," kata Yesus, "dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku." Mengenal suara bukan soal pandai, melainkan soal terbiasa. Domba tidak menghafal teori tentang gembalanya. Ia hanya sudah sering mendengar, sampai suara itu melekat. Maka pertanyaan Hari Minggu Gembala Baik ini sederhana dan menusuk: di tengah begitu banyak suara yang menarik-narik hidup kita, iklan, gosip, ketakutan, ambisi, masihkah kita mengenali suara Sang Gembala? Suara itu tidak pernah berteriak paling keras. Ia hanya paling kita kenal, kalau kita cukup sering mendengarkan-Nya dalam doa dan sabda.

Yang menakjubkan, Gembala kita ternyata juga seekor Anak Domba. Dalam penglihatan Wahyu, kumpulan besar dari segala bangsa dan bahasa berdiri berjubah putih, dan Anak Domba yang di tengah takhta itu menggembalakan mereka. Sebuah gambar yang membalik nalar: Domba yang menggembalakan domba. Ia memimpin bukan dari atas dengan cambuk, melainkan dari tengah, karena Ia sendiri pernah dibawa ke pembantaian. Gembala ini mengenal jalan penderitaan karena Ia sudah menempuhnya lebih dulu.

Ke mana Ia menuntun? "Ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka." Itu bukan janji bahwa kita tidak akan pernah menangis. Itu janji bahwa air mata kita ada yang menghapus, satu per satu, dengan tangan-Nya sendiri.

Bacaan pertama menunjukkan bahwa suara Gembala itu terus terdengar lewat mulut manusia. Paulus dan Barnabas memberitakannya di Antiokhia. Sebagian mendengar dan bergembira, sebagian iri lalu mengusir mereka. Menarik, para rasul tidak memaksa siapa pun. Gembala yang baik memanggil, tidak menyeret. Suara-Nya mengundang, tidak mengancam. Dan domba-domba yang mengenali suara itu, meski ikut diusir dari kota, tetap "penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus". Ternyata mengikuti Sang Gembala tidak menjamin jalan yang mulus, tetapi menjamin sesuatu yang tidak bisa direbut keadaan: sukacita.

Hari ini, di keramaian yang memekakkan, baiklah kita berhenti sejenak dan bertanya: suara siapa yang paling sering kudengar? Sebab pada akhirnya, kita mengikuti suara yang paling kita kenal.

Gembala yang baik, di tengah riuh dunia, buatlah aku mengenali suara-Mu dan mengikuti Engkau sampai ke mata air kehidupan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →