‹ Semua renungan

Sabtu, 6 Mei 2028

Jahitan Tabita

Ketika seseorang meninggal, apa yang tinggal untuk menceritakan siapa dia? Kadang bukan gelar atau harta, melainkan barang-barang kecil buatan tangannya. Sepiring masakan yang resepnya ditiru anak-cucu. Sehelai baju yang masih disimpan.

Di Yope, seorang murid perempuan bernama Tabita meninggal. Ketika Petrus datang, para janda mengerumuninya sambil menangis. Mereka tidak menunjukkan piagam atau daftar prestasi. Mereka menunjukkan baju dan pakaian yang dijahit Tabita waktu ia masih hidup. Itulah riwayat hidup perempuan itu: tumpukan kain yang menghangatkan orang-orang yang tidak mampu membeli.

Lukas mencatat namanya dalam dua bahasa, Tabita dan Dorkas, seakan hendak berkata bahwa kebaikan kecil semacam ini melintasi batas bahasa dan bangsa. Petrus berlutut, berdoa, dan Tuhan mengembalikan nyawanya. Tetapi sebelum mukjizat itu, sudah ada mukjizat yang lebih sunyi: hidup yang seluruhnya dipakai untuk menjahit kebaikan bagi orang lain.

Para janda itu tidak kehilangan seorang dermawan besar dengan nama harum. Mereka kehilangan seseorang yang tahu ukuran badan mereka, yang menjahit sambil mengingat siapa yang akan memakai. Kebaikan Tabita bukan kebaikan yang diumumkan, melainkan yang dijahitkan satu per satu.

Tidak semua kita dipanggil melakukan hal besar. Tetapi setiap kita bisa meninggalkan jahitan sendiri: perbuatan kecil yang kelak dikenang orang sebagai tanda bahwa kita pernah mengasihi.

Tuhan, kalau namaku kelak disebut, biarlah yang dikenang bukan gelarku, melainkan kebaikan yang sempat kukerjakan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →