Jumat, 5 Mei 2028
Saulus, Saudaraku
Kemarin kita mengikuti Filipus membaptis orang asing di jalan yang sunyi. Hari ini ada baptisan lain, tetapi calonnya jauh lebih sulit diterima: Saulus, pemburu jemaat, yang datang ke Damsyik justru untuk menyeret orang-orang percaya ke penjara.
Bayangkan posisi Ananias. Tuhan menyuruhnya pergi kepada orang yang namanya membuat seluruh jemaat gemetar. Ananias sempat membantah, "Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyak kejahatannya." Wajar. Ketakutannya masuk akal. Siapa yang mau mengetuk pintu orang yang datang justru untuk memenjarakannya, lalu menumpangkan tangan ke atasnya sebagai saudara?
Namun ia taat. Dan perhatikan kata pertama yang keluar dari mulutnya ketika bertemu si pemburu: "Saulus, saudaraku." Bukan "hai musuh", bukan "hai penganiaya". Saudaraku. Sebelum Saulus melihat kembali dengan matanya, ia lebih dulu disebut saudara oleh orang yang paling berhak takut kepadanya. Barangkali di kata itulah pertobatan Paulus benar-benar diteguhkan.
Kita gampang menaruh cap permanen pada orang: pernah jahat, selamanya lawan. Allah memandang lain. Ia melihat "alat pilihan" pada diri yang kita anggap kasus tertutup. Adakah orang yang kita coret dari kemungkinan berubah? Beranikah kita menyapanya lebih dulu: saudaraku?
Tuhan, robohkan cap yang kupasang pada sesamaku, dan ajarilah aku menyapa lawan sebagai saudara. Amin.