Kamis, 4 Mei 2028
Jalan yang Sunyi
Ada jalan-jalan yang sengaja kita hindari. Jalan sunyi, jarang dilewati, tidak ada warung, tidak ada orang. Kalau bisa memutar lewat jalan ramai, kita pilih yang ramai. Sepi terasa seperti tempat yang tidak menjanjikan apa-apa.
Tetapi malaikat justru menyuruh Filipus berangkat ke jalan yang turun ke Gaza, dan Lukas sengaja mencatat: jalan itu jalan yang sunyi. Di jalan yang sepi itulah menunggu seorang pejabat Etiopia, pulang dari Yerusalem, membaca gulungan nabi Yesaya tanpa mengerti. "Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?" katanya. Ia punya kitab dan jabatan tinggi. Yang tidak ia punya hanya seorang teman yang mau duduk di sampingnya dan menjelaskan.
Firman Allah memang jarang sampai lewat pengumuman besar. Ia lebih sering sampai lewat satu orang yang bersedia naik ke kereta orang lain, duduk berdampingan, dan menemani kebingungannya. Filipus tidak berkhotbah. Ia bertanya pelan, "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?"
Mungkin hari ini kita diminta membelok ke jalan sunyi seseorang yang sedang bingung membaca hidupnya sendirian. Kita tidak perlu pandai. Cukup mau duduk di sampingnya.
Tuhan, utuslah aku ke jalan-jalan yang sunyi, kepada mereka yang membaca hidupnya tanpa pemandu. Amin.