Selasa, 2 Mei 2028
Jubah di Kaki Saulus
Di sebuah sudut cerita yang mudah terlewat, ada tumpukan jubah. Para algojo yang hendak melempari Stefanus melepas jubah luar mereka supaya lebih leluasa mengayun. Jubah-jubah itu dititipkan di kaki seorang muda bernama Saulus. Ia belum melempar batu, tetapi ia menjaga baju para pelempar. Ia menyetujui pembunuhan itu.
Sementara batu berjatuhan, Stefanus tidak balas mengutuk. Ia berdoa persis seperti Gurunya di kayu salib: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka." Doa itu diucapkan sambil memandang langit yang terbuka. Dan doa itu, kita percaya, tidak jatuh ke tanah sia-sia. Beberapa waktu kemudian, anak muda penjaga jubah itu rebah di jalan ke Damsyik dan bangkit sebagai Paulus.
Betapa panjang jangkauan sebuah doa pengampunan. Ia bisa menembus hati orang yang hari ini masih berdiri di pihak lawan. Kita cenderung mengukur doa dari hasil yang cepat tampak. Padahal doa Stefanus baru berbuah bertahun-tahun kemudian, dalam diri orang yang paling tak terduga. Santo Atanasius kelak juga bertahan nyaris seorang diri membela iman akan Kristus, seakan meneruskan keteguhan yang sama: berdiri di pihak yang benar meski dunia menekan dari segala arah.
Adakah nama yang kita simpan dalam daftar dendam? Barangkali ia sedang menunggu bukan kutukan kita, melainkan doa kita.
Tuhan, ajarilah aku mendoakan orang yang menyakitiku, sebab Engkau sanggup mengubah lawan menjadi saksi. Amin.