Kamis, 27 April 2028
Tanpa Takaran
Kemarin kita melihat rasul-rasul kembali diseret ke Mahkamah Agama, tetap teguh bahwa mereka harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Hari ini Injil membawa kita ke satu kalimat kecil yang mudah terlewat, tetapi menyimpan kabar besar.
"Sebab Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas." Di dapur, hampir segala sesuatu ada takarannya. Garam sesendok, gula secukupnya, beras sesuai jumlah yang makan. Kita hidup dalam dunia yang serba ditakar, karena persediaan selalu terbatas. Kalau terlalu boros hari ini, besok kekurangan.
Tetapi Roh Allah tidak diberikan dengan gelas takar. Ia dicurahkan tanpa batas. Tidak ada jatah yang habis, tidak ada persediaan yang menipis. Kita sering berdoa seolah rahmat Tuhan barang langka yang harus direbut sedikit-sedikit, seakan kalau orang lain menerima banyak maka bagian kita berkurang. Padahal sumbernya tak pernah kering.
Kalimat berikutnya menegaskannya, "Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya." Kasih Allah bukan tipe kasih yang berhitung dan menahan. Ia menyerahkan segalanya.
Kalau Tuhan memberi tanpa takaran, mengapa kita begitu pelit menakar kebaikan kita kepada sesama, seakan stok kasih kita bisa habis?
Tuhan, Engkau mencurahkan Roh-Mu tanpa batas dan tanpa takaran. Sembuhkan hatiku yang suka berhitung, dan ajar aku memberi dengan tangan yang selapang pemberian-Mu. Amin.