Kamis, 20 April 2028
Pikiran yang Dibuka
Ketika Yesus tiba-tiba berdiri di tengah mereka, reaksi pertama para murid bukan sukacita, melainkan ngeri. "Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu." Wajar. Mereka tahu Yesus sudah mati. Munculnya sosok yang mirip Dia lebih masuk akal ditafsirkan sebagai hantu daripada sebagai orang yang sungguh hidup kembali.
Menarik bagaimana Yesus menenangkan mereka. Ia tidak marah atas keraguan itu. Ia justru mengundang mereka memeriksa. "Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku. Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya." Lalu Ia meminta makanan dan memakan sepotong ikan di depan mata mereka. Hantu tidak lapar. Tuhan yang bangkit bukan bayangan atau kenangan, melainkan tubuh yang nyata, yang bisa disentuh dan yang makan bersama.
Tetapi Yesus tidak berhenti pada bukti fisik. Sesudah meyakinkan mata dan tangan mereka, Ia mengerjakan sesuatu pada bagian yang lebih dalam. "Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci." Di situ ada dua tahap iman yang keduanya perlu. Yang pertama, melihat dan meraba bahwa Ia sungguh hidup. Yang kedua, pikiran yang dibuka untuk mengerti mengapa semuanya terjadi.
Sebab bukti saja tidak cukup. Para murid sudah menyaksikan kubur kosong dan kini Yesus yang hidup, tetapi mereka masih perlu dituntun untuk memahami bahwa semua ini sudah tertulis, bahwa Mesias memang harus menderita dan bangkit pada hari ketiga. Iman bukan hanya soal peristiwa yang mengejutkan, melainkan juga soal pikiran yang perlahan dibuka untuk melihat rencana di baliknya.
Kita kadang berdoa meminta tanda, meminta bukti yang meyakinkan. Tidak salah. Tetapi barangkali yang lebih kita butuhkan adalah pikiran yang dibuka, supaya peristiwa-peristiwa yang selama ini kita lewati tanpa arti mulai terbaca sebagai bagian dari rencana kasih Allah. Sebab tanda bisa membuat kita kagum sesaat, tetapi pikiran yang dibuka membuat kita mengerti untuk seumur hidup. Yang pertama menyentuh mata, yang kedua menetap di hati.
Bacaan pertama menunjukkan hasilnya. Petrus, yang pikirannya sudah dibuka, kini bisa menjelaskan kepada orang banyak bahwa penderitaan Mesias sudah dinubuatkan para nabi sejak dahulu. Orang yang pikirannya terbuka tidak bisa menyimpannya sendiri; ia menjelaskannya kepada yang lain.
Maukah kita hari ini meminta bukan hanya tanda, tetapi juga pikiran yang dibuka?
Tuhan yang bangkit, bukalah pikiranku untuk mengerti Kitab Suci dan membaca tangan-Mu dalam perjalanan hidupku. Jadikan aku saksi yang tidak hanya melihat, tetapi juga memahami. Amin.