‹ Semua renungan

Rabu, 19 April 2028

Yang Biasa Duduk, Kini Melompat

Ada orang-orang yang begitu lama berada di satu tempat sampai tempat itu menjadi nama mereka. Di setiap kampung ada tokoh seperti itu. Yang biasa duduk di pojok pasar. Yang selalu ada di bangku depan gereja. Kita mengenalnya bukan dari namanya, melainkan dari tempat ia selalu berada.

Begitulah orang lumpuh dalam bacaan pertama. Setiap hari ia diusung dan diletakkan di pintu gerbang Bait Allah yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah. Bertahun-tahun. Orang-orang lewat, melempar koin, lalu berlalu. Ia adalah bagian dari pemandangan, seperti tiang atau tangga. Duduk adalah takdirnya, dan meminta adalah pekerjaannya.

Lalu Petrus dan Yohanes lewat. Orang itu menengadah, berharap seperti biasa, menunggu koin. Tetapi Petrus berkata, "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" Lalu ia memegang tangan orang itu dan membantunya berdiri. Dan orang yang seumur hidup hanya duduk itu melonjak, berdiri, berjalan, bahkan melompat-lompat sambil memuji Allah.

Bayangkan kehebohannya. Seluruh rakyat mengenalnya sebagai si peminta di Gerbang Indah. Kini mereka melihatnya melompat. Nama lamanya, si lumpuh yang selalu duduk, tak berlaku lagi. Kebangkitan Yesus ternyata bukan peristiwa yang tinggal di kubur. Ia menjalar sampai ke kaki seorang pengemis dan membuatnya berdiri.

Injil hari ini melengkapi gambar itu di jalan menuju Emaus. Dua murid berjalan dengan muka muram, merasa segala harapan sudah kandas. Tetapi Yesus yang bangkit berjalan menemani mereka, dan hati yang tadinya beku pun berkobar kembali. Baik si lumpuh maupun kedua murid itu mengalami hal yang sama: sesuatu yang tadinya mati, entah kaki entah harapan, dibuat bergerak lagi.

Perhatikan, dalam kedua kisah itu Tuhan tidak menunggu orang datang kepada-Nya. Ia yang menghampiri: menemui si lumpuh lewat tangan Petrus, menemani dua murid yang putus asa di jalan sunyi. Kebangkitan bukan sekadar peristiwa yang harus kita percayai dari jauh, melainkan kuasa yang mendatangi kita justru di titik kita paling tak berdaya.

Kita masing-masing punya bagian yang terasa lumpuh. Sebuah kebiasaan yang tak kunjung berubah, sebuah luka yang membuat kita duduk saja di tempat yang sama bertahun-tahun. Kepada bagian itulah kuasa kebangkitan hari ini berkata, berjalanlah.

Tuhan yang bangkit, ada bagian dalam diriku yang sudah terlalu lama duduk lumpuh. Pegang tanganku dan angkat aku berdiri, supaya aku pun berjalan dan melompat memuji Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →