‹ Semua renungan

Selasa, 18 April 2028

Membelakangi Kubur

Maria Magdalena berdiri di depan kubur dan menangis. Air matanya wajar. Ia baru kehilangan Guru yang mengubah hidupnya, dan kini bahkan jenazah-Nya pun hilang. Maka ia terus menjenguk ke dalam kubur, memandangi kegelapan di dalamnya, seolah dengan menatap cukup lama ia bisa menemukan kembali apa yang telah pergi.

Di sinilah letak sesuatu yang mudah terlewat. Sepanjang ia menghadap kubur, Yesus yang hidup justru berdiri di belakangnya. "Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ." Selama pandangannya terpaku pada kubur, ia membelakangi Dia yang ia cari. Yang hidup ada di arah yang berlawanan dari tempat ia menatap.

Betapa sering kita seperti Maria. Kita berdiri lama menghadap kehilangan, menatap kubur berbagai hal yang sudah berlalu: kesempatan yang lewat, orang yang pergi, masa lalu yang tak bisa diulang. Kita begitu sibuk memandang ke dalam liang itu sampai lupa bahwa hidup mungkin sedang berdiri di arah lain, menunggu kita menoleh.

Bahkan ketika Maria sudah menoleh, ia belum langsung mengenali-Nya. Ia menyangka orang itu penunggu taman. Baru ketika Yesus memanggil namanya, "Maria," matanya terbuka. Suara yang mengenalnya secara pribadi itu menembus dukanya. Tuhan tidak menyapa dengan khotbah panjang, cukup satu nama yang Ia kenal betul.

Lalu ada perintah yang mengejutkan, "Janganlah engkau memegang Aku." Maria tentu ingin menahan Dia, menggenggam erat supaya tidak kehilangan lagi. Tetapi Yesus menyuruhnya melepaskan dan pergi memberi tahu yang lain. Sukacita perjumpaan tidak boleh disimpan sendiri; ia harus diteruskan. Maria pun menjadi orang pertama yang mewartakan kebangkitan, "Aku telah melihat Tuhan!"

Ada pelajaran halus di situ. Mengasihi Tuhan bukan berarti menggenggam-Nya untuk diri sendiri, melainkan bersedia diutus keluar membawa nama-Nya. Perjumpaan yang sejati dengan Dia selalu berubah menjadi pengutusan.

Bacaan pertama menunjukkan buah dari kabar yang diteruskan itu. Ketika Petrus berbicara, tiga ribu orang bertobat dan dibaptis dalam sehari. Semuanya bermula dari seorang perempuan yang berani berpaling dari kubur.

Ke arah mana wajah kita hari ini menghadap? Masih terpaku pada liang yang kosong, atau sudah berani menoleh kepada Dia yang hidup dan memanggil nama kita?

Tuhan, terlalu lama aku menatap kubur berbagai kehilangan. Buat aku berpaling kepada-Mu yang hidup, dan ketika Engkau memanggil namaku, beri aku telinga untuk mengenali suara-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →