Senin, 17 April 2028
Kabar yang Dibayar
Injil hari ini menampilkan sisi yang jarang kita renungkan dari pagi Paskah. Sementara para perempuan berlari membawa sukacita, ada rombongan lain yang juga bergerak cepat: para penjaga kubur. Mereka lari ke kota, bukan untuk memberitakan kebangkitan, melainkan untuk melapor kepada imam-imam kepala bahwa sesuatu telah terjadi.
Dan reaksi para pemimpin itu menyingkap isi hati manusia. Mereka tidak bertanya, benarkah Ia bangkit. Mereka langsung mengambil keputusan dagang: berunding, lalu memberikan sejumlah besar uang kepada para serdadu. Pesannya jelas. Katakan bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri mayat itu ketika kamu tidur. Sebuah kebohongan disusun rapi, lalu dibayar mahal supaya beredar.
Matius menutup dengan kalimat getir, "Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini." Kabar bohong itu laku. Ia menyebar dan bertahan bertahun-tahun. Bukan karena benar, melainkan karena ada yang berkepentingan menjaganya tetap hidup.
Bukan berarti kebenaran selalu menang cepat. Kadang justru kebohongan yang lebih dulu ramai dan lebih lama bertahan, karena ia dirawat oleh banyak kepentingan. Tetapi ada satu hal yang tidak dimiliki kebohongan: ia tidak punya saksi yang rela mati untuknya. Orang bersedia berdusta demi uang, tetapi jarang ada yang bersedia mati demi dusta yang ia tahu palsu.
Kita hidup di zaman ketika kabar bohong pun masih bisa dibeli dan disebar. Sebuah cerita yang menguntungkan pihak tertentu diulang terus sampai terdengar seperti kebenaran, diteruskan dari mulut ke mulut, dari jari ke jari. Yang membedakan hanya satu hal: kabar yang dibayar selalu butuh biaya untuk bertahan, sedangkan kebenaran hanya butuh saksi yang berani.
Dan lihatlah saksi itu di bacaan pertama. Petrus berdiri di depan orang banyak, tanpa uang, tanpa perlindungan, dan berkata terus terang, "Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi." Ia tidak dibayar untuk berkata begitu. Justru ia berisiko dianiaya karena mengatakannya. Di situlah bedanya kebohongan dan kesaksian. Yang satu dibiayai supaya orang mau mengucapkannya, yang lain diucapkan meski harus dibayar dengan nyawa.
Setiap hari kita ikut menyebarkan sesuatu, entah lewat mulut entah lewat jari. Kabar mana yang kita teruskan? Yang membuat kita disukai dan aman, atau yang benar meski merepotkan?
Tuhan, jadikan aku saksi kebenaran, bukan penyebar kabar yang menyenangkan tetapi palsu. Beri aku keberanian Petrus untuk mengatakan bahwa Engkau hidup. Amin.