‹ Semua renungan

Kamis, 6 April 2028

Ditambah Satu Huruf

Orang tua memilih nama anak dengan penuh harap. Nama sering berarti doa: semoga jadi terang, semoga jadi berkat, semoga kuat. Nama adalah harapan yang dipakaikan sejak hari pertama.

Dalam bacaan pertama, Allah melakukan lebih dari sekadar memberi nama. Ia mengganti nama. Abram menjadi Abraham. Hanya ditambah sedikit bunyi, tetapi artinya melompat jauh: dari bapa yang mulia menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Padahal saat itu Abraham sudah tua dan belum punya keturunan dari Sara. Nama barunya adalah janji yang belum kelihatan buktinya. Setiap kali orang memanggilnya, mereka mengucapkan masa depan yang belum tiba.

Begitulah cara Allah bekerja. Ia menamai kita bukan menurut siapa kita sekarang, melainkan menurut siapa kita di dalam rencana-Nya. Ia sudah melihat panen ketika kita baru melihat benih.

Di Injil, orang-orang tersinggung ketika Yesus menyinggung Abraham. "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun, dan Engkau telah melihat Abraham?" Jawab Yesus mengguncang, "Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Bapa segala bangsa itu pun ternyata berdiri di dalam Dia yang tak berawal.

Kalau Allah sudah menamai kita dengan janji, beranikah kita berhenti menyebut diri dengan nama-nama lama: si gagal, si tak berguna, si terlambat?

Tuhan, Engkau memanggilku menurut janji-Mu, bukan menurut kegagalanku. Ajar aku hidup sesuai nama baru yang Kauberikan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →