Rabu, 5 April 2028
Seandainya Pun Tidak
Kemarin Yesus berkata bahwa banyak orang mulai percaya kepada-Nya. Hari ini kita bertemu tiga orang yang imannya diuji di depan tungku.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berdiri di hadapan raja yang murka. Pilihannya sederhana: sujud pada patung emas, atau dibakar hidup-hidup. Dan jawaban mereka termasuk kalimat iman paling berani dalam Kitab Suci. "Allah kami sanggup melepaskan kami. Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku tahu, kami tetap tidak akan menyembah patung tuanku."
Perhatikan kalimat kedua itu. Seandainya tidak. Di situ letak kejujuran iman mereka. Mereka percaya Allah bisa menolong, tetapi mereka tidak menjadikan pertolongan itu sebagai syarat kesetiaan. Mereka menyembah Allah karena Ia Allah, bukan karena Ia menguntungkan.
Betapa berbeda dengan iman yang sering kita bawa. Kita setia selama doa dikabulkan, selama usaha lancar, selama tungku tidak sungguh menyala. Begitu api mendekat, iman kita ikut menawar. Tuhan, kalau Engkau tolong, aku percaya. Itu bukan iman, itu transaksi.
Yesus di Injil berkata kebenaran akan memerdekakan kita. Ketiga pemuda itu sudah merdeka bahkan sebelum keluar dari perapian. Merdeka dari rasa takut yang membuat orang mudah bertekuk lutut pada apa saja yang berkuasa hari itu.
Iman kita hari ini, masih percaya jugakah seandainya jawaban-Nya ternyata tidak?
Tuhan, ajari aku menyembah-Mu bukan karena upah, melainkan karena Engkau layak disembah. Teguhkan aku ketika jawaban-Mu bukan yang kuminta. Amin.