Selasa, 4 April 2028
Yang Justru Dipandang
Kemarin kita melihat Yesus membungkuk menulis di tanah, menolak menghukum. Hari ini pandangan kita diangkat ke atas, ke sebuah tiang.
Di padang gurun bangsa Israel digigit ular. Racun sudah menjalar, kematian sudah di depan mata. Lalu Tuhan menyuruh Musa melakukan sesuatu yang aneh: membuat ular tembaga dan menaruhnya di tiang. Siapa yang terpagut, jika ia memandang ular itu, akan tetap hidup. Bukan obat yang dioleskan, bukan penawar yang diminum. Hanya dipandang.
Pikirkanlah betapa janggalnya. Yang menyembuhkan justru rupa dari yang melukai. Ular dipasang tinggi-tinggi, dan orang yang sekarat diminta menatapnya. Bukan lari dari luka, melainkan berani menghadapnya.
Yesus memungut gambaran ini untuk diri-Nya sendiri. "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia." Salib itu tiang yang baru. Di sana tergantung akibat dosa dalam segala kengeriannya, dan justru ke sanalah kita diminta memandang supaya sembuh.
Kita lebih suka memalingkan muka dari salib. Terlalu berdarah, terlalu tidak nyaman. Tetapi keselamatan tidak datang dengan menghindari luka, melainkan dengan memandang Dia yang menanggungnya.
Ke manakah mata kita berpaling ketika racun bernama takut atau rasa bersalah mulai menjalar?
Tuhan yang ditinggikan di kayu salib, ajarlah aku tidak memalingkan muka. Biar pandanganku tertuju pada-Mu, dan dalam Engkau aku beroleh hidup. Amin.