Minggu, 2 April 2028
Yang Tidak Diungkit Lagi
Ada satu jenis luka yang tidak kunjung sembuh karena terus diungkit. Dalam rumah tangga, dalam pertemanan, kadang dalam diri sendiri. Sebuah kesalahan lama sudah diakui, sudah diminta maaf, sudah bertahun lewat. Tetapi setiap kali ada pertengkaran baru, ia ditarik keluar lagi dari laci, dibuka lagi, dibaui lagi. Kita mahir menyimpan arsip kesalahan orang.
Bacaan pertama hari ini justru kebalikannya. "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu," firman Tuhan lewat Yesaya. "Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru." Allah yang membuka jalan di padang gurun rupanya juga Allah yang menutup arsip. Ia tidak sedang pikun. Ia memilih tidak mengungkit.
Injil hari ini menunjukkan wajah pilihan itu. Seorang perempuan diseret ke tengah, tertangkap basah, dengan batu sudah di genggaman banyak tangan. Kasusnya jelas, hukumnya jelas, dan yang mereka tunggu hanya satu kata dari Yesus untuk memulai lemparan pertama. Tetapi Yesus membungkuk dan menulis di tanah. Ia tidak sibuk dengan dosa perempuan itu. Ia sibuk dengan hati para penuduh.
"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu." Lalu satu per satu mereka pergi, mulai dari yang tertua. Menarik, yang tertua duluan. Mungkin karena yang paling banyak makan asam garam paling tahu betapa panjang daftar kesalahannya sendiri.
Tinggallah Yesus dan perempuan itu. Dan di situ terdengar kalimat yang tidak mengungkit apa-apa: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi." Perhatikan, pengampunan itu tidak menutup mata pada dosa. Ia tidak berkata perbuatanmu tidak apa-apa. Ia berkata, masa lalumu tidak akan Kupakai untuk memenjarakanmu.
Inilah yang membuat Paulus, di bacaan kedua, sanggup melupakan apa yang di belakangnya dan berlari ke depan. Bukan karena masa lalunya bersih, melainkan karena masa lalunya sudah diampuni. Orang yang tahu dirinya diampuni bisa berlari. Orang yang terus mengungkit, entah kesalahan sendiri entah kesalahan orang lain, berjalan sambil menyeret karung batu.
Ada perbedaan besar antara memaafkan dan menyimpan kuitansi. Memaafkan sambil diam-diam mencatat bukanlah memaafkan; itu hanya menunda tagihan. Cepat atau lambat, catatan yang disimpan akan dikeluarkan lagi, dan luka lama pun terbuka untuk kesekian kali. Pengampunan yang benar berani merobek kuitansi itu.
Adakah satu nama yang masih kita simpan arsipnya, menunggu saat yang tepat untuk kita ungkit lagi?
Tuhan, Engkau tidak mengungkit-ungkit dosaku. Ajarilah aku menutup laci yang sama bagi sesamaku, dan berjalan ke depan dengan tangan yang ringan. Amin.