Jumat, 31 Maret 2028
Orang Baik Itu Mengganggu
Keluar dari gedung bioskop pada siang hari, mata terasa ditusuk. Terang yang sebenarnya biasa saja mendadak menyakitkan, karena mata terlalu lama betah di gelap. Bukan terangnya yang salah.
Kitab Kebijaksanaan hari ini merekam percakapan orang-orang fasik, dan isinya membuat merinding. "Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan." Hanya melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita, kata mereka. Orang benar itu tidak menyerang siapa-siapa. Kehadirannya saja sudah terasa seperti dakwaan, seperti terang bagi mata yang betah di gelap. Maka disusunlah rencana: kita cobai dia dengan aniaya dan siksa, kita jatuhkan hukuman mati keji, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan.
Ditulis jauh sebelum Kalvari, kalimat-kalimat itu terdengar seperti naskah Jumat Agung. Dalam Injil, bayangan itu mulai merapat: orang Yerusalem berbisik, bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Yesus tetap mengajar dengan leluasa, sebab saat-Nya belum tiba.
Pekan-pekan terakhir Prapaskah membawa kita mendekati kisah sengsara. Baik bertanya sejak sekarang: di hadapan orang yang hidupnya lurus, aku merasa diteguhkan atau terganggu? Jawaban jujurnya menunjukkan seberapa gelap ruangan tempat mataku terbiasa.
Tuhan, biasakanlah mataku dengan terang-Mu, agar aku mencintai kebenaran dan bukan menghadangnya. Amin.