Rabu, 29 Maret 2028
Yang Tidak Pernah Cuti
Kemarin Yesus menyembuhkan orang lumpuh di Betesda, dan karena hal itu terjadi pada hari Sabat, Ia dipersoalkan. Hari ini kita mendengar jawaban-Nya, singkat dan dahsyat: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga."
Renungkanlah kalimat itu pelan-pelan. Allah tidak pernah cuti. Jantung kita berdetak saat kita tidur nyenyak. Matahari terbit tanpa perlu diingatkan. Rahmat mengalir pada hari libur dan hari kerja. Sabat melarang manusia bekerja, tetapi kasih tidak mengenal hari tutup.
Bacaan pertama memberi gambaran yang paling dekat untuk kasih semacam itu: seorang ibu. "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya?" tanya Allah lewat Yesaya. Setiap ibu tahu jawabannya. Bayi boleh tertidur dan lupa pada ibunya; ibunya tidak pernah lupa pada bayinya. "Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau."
Sion waktu itu merasa ditinggalkan Tuhan. Kita pun kadang begitu: doa terasa memantul di langit-langit, hidup terasa berjalan sendirian. Pada saat seperti itulah kedua bacaan ini perlu dibaca ulang. Perasaan ditinggalkan bukanlah bukti ditinggalkan. Ia yang menjaga kita tidak terlelap, tidak lupa, tidak cuti.
Pernahkah aku berterima kasih untuk pekerjaan Allah yang berlangsung diam-diam sepanjang tidurku?
Bapa yang bekerja sampai sekarang, tenangkanlah hatiku dalam pemeliharaan-Mu yang tidak pernah berhenti. Amin.