Selasa, 28 Maret 2028
Tiga Puluh Delapan Tahun
Kemarin kita mendengar pegawai istana yang percaya pada satu kalimat, dan anaknya sembuh dari jauh. Hari ini Yesus tiba di Yerusalem, di kolam Betesda, tempat harapan justru sudah lama mengendap.
Di serambi kolam itu terbaring seorang yang sakit selama tiga puluh delapan tahun. Hampir seumur hidup. Setiap kali air bergoncang, orang lain mendahuluinya. Ia sudah hafal kekalahannya sendiri.
Pertanyaan Yesus kepadanya terdengar aneh: "Maukah engkau sembuh?" Tentu mau; bukankah ia berbaring di situ untuk itu? Namun dengarlah jawabannya: tidak ada orang yang menurunkan aku ke kolam, orang lain sudah turun mendahului aku. Ia tidak menjawab mau atau tidak. Ia menjelaskan mengapa hal itu mustahil. Tiga puluh delapan tahun ternyata bisa mengubah harapan menjadi hafalan keluhan.
Maka pertanyaan Yesus itu tidak aneh sama sekali. Ada bagian dalam diri kita yang diam-diam betah dengan sakitnya: dendam yang sudah menjadi identitas, kebiasaan buruk yang sudah dianggap takdir. Sembuh itu menuntut perubahan, dan perubahan itu melelahkan.
Yesus tidak berdebat. "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Orang itu sembuh seketika. Air yang ditunggunya bertahun-tahun ternyata bukan jawaban. Jawabannya berdiri tepat di depannya.
Sakit lama mana dalam diriku yang bila ditanya Yesus, kujawab dengan alasan?
Tuhan, aku mau sembuh. Bangunkanlah aku dari tilam alasan-alasanku. Amin.