‹ Semua renungan

Minggu, 26 Maret 2028

Yang Berdiri di Luar Pesta

Setiap pesta punya satu cerita yang jarang difoto: orang yang menolak masuk. Ia berdiri di halaman, mendengar musik dari dalam, tetapi hatinya panas. Ada rasa diperlakukan tidak adil yang membuat kakinya menolak melangkah. Semakin ramai suara di dalam, semakin keras ia bertahan di luar.

Minggu ini Gereja bermadah Laetare, kata Latin yang berarti bersukacitalah. Di tengah puasa, kita diajak mencicipi pesta. Bacaan pertama mencatat pesta yang bersejarah: setelah empat puluh tahun makan manna, Israel merayakan Paskah di tanah perjanjian dan makan hasil negeri itu. Keesokan harinya manna berhenti. Masa darurat selesai, masa menetap dimulai. Allah mengganti ransum pengembaraan dengan panen.

Injilnya perumpamaan anak yang hilang. Baru sepekan lalu kita membaca kisah ini, dan Gereja sudah menyodorkannya lagi. Kali ini mari berdiri di sudut yang lain: di halaman, bersama si anak sulung.

Ia pulang dari ladang, mendengar bunyi seruling, lalu tahu adiknya kembali dan disambut pesta. Maka marahlah ia dan tidak mau masuk. Dengarlah keluhannya: telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing. Itu kalimat pegawai yang menagih lembur, bukan kalimat anak. Ia tinggal serumah dengan bapanya, tetapi hatinya menghitung upah.

Jawaban sang bapa lembut dan mengejutkan: "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu." Semuanya sudah miliknya sejak lama. Ia hanya tidak pernah merasa memilikinya, karena ia memandang dirinya buruh, bukan ahli waris.

Perumpamaan ini sengaja dibiarkan menggantung. Kita tidak pernah tahu apakah si sulung akhirnya masuk. Barangkali karena akhir cerita itu memang diserahkan kepada kita, orang-orang yang merasa sudah lama setia beragama. Kita rajin, kita tertib, dan justru karena itu mudah panas melihat orang berdosa disambut meriah. Paulus mengingatkan dalam bacaan kedua: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Didamaikan bukan hanya dari dosa yang jauh, tetapi juga dari kesetiaan yang masam.

Sukacita Laetare hanya bisa dirasakan orang yang mau masuk. Pintu tidak dikunci. Bapa bahkan keluar sendiri untuk membujuk.

Masihkah aku berdiri di halaman sambil menghitung jasa?

Bapa, cairkanlah hatiku yang masam oleh hitung-hitungan, dan tariklah aku masuk ke dalam pesta pengampunan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →