Sabtu, 25 Maret 2028
Lamaran di Nazaret
Dalam adat kita, lamaran adalah peristiwa yang berdebar-debar. Keluarga datang dengan hormat, maksud disampaikan baik-baik, lalu semua orang menunggu satu jawaban dari pihak yang dilamar. Sebesar apa pun keluarga yang datang, mereka tidak bisa memaksa. Jawaban harus keluar dengan bebas, atau tidak sah sama sekali.
Hari ini Gereja merayakan lamaran terbesar dalam sejarah. Allah mengutus Gabriel ke Nazaret, kota kecil yang tidak tercatat keistimewaannya, kepada seorang gadis bernama Maria. Yang dilamar bukan sekadar kesediaan menikah, melainkan kesediaan mengandung dan melahirkan Anak Allah. Dan sungguh mencengangkan: Allah yang mahakuasa itu menunggu jawaban. Pencipta langit dan bumi menahan diri di hadapan kebebasan seorang gadis desa. Surga seakan menahan napas.
Maria tidak menjawab asal cepat. Ia terkejut, bertanya di dalam hatinya, lalu bertanya terus terang: bagaimana hal itu mungkin terjadi? Iman yang sehat memang tidak melompati pertanyaan. Setelah mendengar jawaban malaikat, barulah ia berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Bahasa Latin menyimpan jawaban itu dalam satu kata: fiat, jadilah. Kata yang sama dipakai ketika Allah menciptakan terang. Penciptaan dimulai dengan fiat Allah; penebusan dimulai dengan fiat Maria.
Bandingkanlah dengan raja Ahas dalam bacaan pertama. Allah menawarinya tanda, bebas memilih, sedalam dunia orang mati atau setinggi langit. Ahas menolak dengan alasan yang terdengar saleh: aku tidak mau mencobai TUHAN. Padahal ia hanya tidak mau terikat; ia sudah punya rencananya sendiri. Namun kepada orang yang menutup pintu seperti itu pun Allah tetap memberi tanda: seorang perempuan muda mengandung dan melahirkan anak laki-laki, Imanuel, Allah menyertai kita.
Surat Ibrani merangkum arah semua ini dalam kata-kata Kristus: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Fiat Maria membuka pintu bagi fiat yang lebih besar, ketaatan Anak sampai wafat di salib, yang menguduskan kita satu kali untuk selama-lamanya.
Sembilan bulan sebelum Natal, di tengah Prapaskah, Gereja mengingatkan bahwa keselamatan kita bermula dari sebuah persetujuan yang diberikan dengan bebas. Dan lamaran itu belum berhenti. Setiap hari Allah datang dengan halus: lewat bisikan hati, lewat orang yang membutuhkan, lewat panggilan tugas. Ia tetap tidak memaksa. Ia menunggu.
Jawaban apa yang sudah lama ditunggu Allah dariku?
Tuhan, berilah aku hati Maria, yang berani bertanya namun lebih berani berserah. Jadilah padaku menurut kehendak-Mu. Amin.