Jumat, 24 Maret 2028
Embun Pagi
Tidak ada yang pernah mendengar embun datang. Ia tidak bergemuruh seperti hujan, tidak menyilaukan seperti matahari. Orang bangun pagi dan rumput sudah basah, daun-daun sudah segar. Embun bekerja semalaman tanpa membangunkan siapa pun.
Lewat nabi Hosea, Allah memilih gambar itu untuk diri-Nya: "Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung." Kalimat ini diucapkan kepada umat yang baru saja diajak bertobat. Allah tidak mengancam dengan badai. Ia menjanjikan embun: kasih yang datang diam-diam, rutin, menyegarkan tanpa pamer.
Dalam Injil, seorang ahli Taurat bertanya tentang hukum yang paling utama. Jawab Yesus: kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Dua hukum yang juga bekerja seperti embun. Kasih yang sejati jarang berbentuk peristiwa besar. Ia berbentuk kesetiaan kecil yang turun setiap hari: sarapan yang disiapkan, doa yang tidak putus, kesabaran yang diperbarui tiap pagi.
Ahli Taurat itu dipuji Yesus: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah." Kerajaan itu memang dekat. Sedekat embun dengan rumput.
Bagi siapa aku bisa menjadi embun hari ini?
Tuhan, jadikanlah kasihku seperti embun-Mu: sunyi, setia, dan menyegarkan siapa saja yang kusentuh. Amin.