Rabu, 8 Maret 2028
Kentongan Niniwe
Dahulu kampung punya alat komunikasi yang mengagumkan kesederhanaannya: kentongan. Dipukul dengan irama tertentu, seluruh kampung tahu ada bahaya. Tidak ada yang bertanya dulu siapa yang memukul. Semua langsung bergerak.
Yunus masuk Niniwe seperti pemukul kentongan yang setengah hati. Kalimat serunya pendek sekali: empat puluh hari lagi Niniwe akan ditunggangbalikkan. Tanpa mukjizat, tanpa penjelasan. Namun hasilnya menakjubkan. Seluruh kota bergerak. Raja turun dari singgasana dan duduk di abu. Orang besar dan kecil berpuasa. Bahkan ternak ikut berkabung.
Orang Niniwe tidak menunggu bukti. Mereka tidak meminta tanda tambahan. Mendengar satu seruan, mereka berbalik. Itulah yang membuat Yesus menegur angkatan-Nya: orang Niniwe bertobat karena pemberitaan Yunus, padahal yang ada di sini lebih daripada Yunus.
Jangan-jangan kita lebih mirip angkatan yang ditegur itu. Sudah mendengar Injil bertahun-tahun, hafal lagunya, hafal khotbahnya, tetapi selalu menunda dengan alasan menunggu waktu yang pas. Kentongan sudah dipukul sejak Rabu Abu. Empat puluh hari itu sedang berjalan. Siapa yang masih tidur?
Tuhan, jadikanlah telingaku peka terhadap seruan-Mu dan kakiku cepat berbalik kepada-Mu, jangan menunggu esok. Amin.