Minggu, 5 Maret 2028
Jalan Tikus
Setiap kali jalan besar macet, selalu ada yang membelokkan kendaraan ke gang sempit. Jalan tikus, kata orang. Lebih cepat, katanya. Padahal sering lebih sempit, lebih rusak, dan mengganggu kampung orang. Jalan tikus menawarkan satu hal: sampai tujuan tanpa membayar harga jalan utama.
Di padang gurun, Iblis datang kepada Yesus persis seperti itu. Ia tidak menawarkan kejahatan besar. Ia menawarkan jalan tikus. Engkau lapar? Ubah batu ini menjadi roti, tak usah menunggu. Engkau Raja? Sembah aku sekali saja, semua kerajaan dunia langsung menjadi milik-Mu, tak perlu lewat salib. Engkau Anak Allah? Jatuhkan diri-Mu dari bubungan Bait Allah, biar semua orang percaya dalam sekejap.
Perhatikanlah: ketiga tawaran itu bukan ajakan berbuat jahat. Ketiganya ajakan mempercepat yang baik dengan cara yang salah. Roti itu baik. Kerajaan itu memang milik-Nya. Iman orang banyak itu tujuan-Nya. Iblis paling lihai justru ketika menawarkan tujuan yang benar lewat jalan yang salah.
Yesus menolak tiga-tiganya. Ia memilih jalan utama yang panjang: empat puluh hari lapar, tiga tahun berjalan kaki, dan pada ujungnya bukit Kalvari. Tidak ada jalan tikus menuju Paskah.
Bacaan pertama memberi bekal yang sama. Ketika membawa hasil panen pertama, orang Israel disuruh mengucapkan riwayatnya: bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara, diperbudak di Mesir, lalu TUHAN membawa kami keluar. Sebuah pengakuan iman berbentuk cerita perjalanan. Panjang, berliku, penuh penantian. Iman memang tidak lahir dari jalan pintas. Ia lahir dari perjalanan yang diingat dan disyukuri.
Kita hidup di zaman yang memuja kecepatan. Kaya mendadak, terkenal semalam, pintar tanpa belajar. Prapaskah menawarkan arah sebaliknya: empat puluh hari berjalan pelan. Puasa tidak bisa dipercepat. Pertobatan tidak bisa diborong dalam sehari. Doa tidak bisa diwakilkan.
Minggu pertama Prapaskah ini baik untuk memeriksa diri: di bagian hidup mana aku sedang tergoda mengambil jalan tikus? Nilai bagus tanpa belajar jujur? Rezeki cepat lewat cara abu-abu? Damai palsu dengan menghindari percakapan yang perlu?
Yesus menang di gurun bukan dengan kuasa yang gemuruh, melainkan dengan firman yang dihafal-Nya dan kesetiaan pada jalan Bapa. Senjata yang sama tersedia bagi kita.
Tuhan Yesus, Engkau menolak segala jalan pintas dan setia menempuh jalan salib. Kuatkanlah aku menempuh jalan yang benar walau panjang, sebab bersama-Mu setiap langkah adalah berkat. Amin.