‹ Semua renungan

Jumat, 3 Maret 2028

Lapar yang Salah Alamat

Ada orang yang berpuasa tetapi seisi rumah kena getahnya. Perut kosong, sumbu pendek. Ditanya sedikit, menyahut ketus. Puasanya jalan, marahnya juga jalan.

Rupanya keluhan ini sudah setua nabi Yesaya. "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya?" protes umat. Jawaban Allah menohok: pada hari puasamu engkau masih mendesak-desak buruhmu, berbantah, berkelahi. Lalu Allah membuka rahasia: puasa yang Kukehendaki ialah membuka belenggu kelaliman, memecah roti bagi yang lapar, membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah.

Menakjubkan. Puasa sejati ternyata bukan soal apa yang keluar dari menu, melainkan apa yang keluar dari tangan. Perut yang lapar hanyalah alat peraga. Ia mengingatkan tubuh tentang rasa lapar orang lain, yang laparnya bukan pilihan.

Maka ukuran puasa kita sederhana saja. Bukan berapa kilo turunnya, melainkan siapa yang tertolong karenanya. Uang jajan yang tidak dibelanjakan itu berpindah ke mana? Adakah satu orang yang hari ini lebih ringan bebannya karena puasaku?

Tuhan, jangan biarkan puasaku berhenti di perut. Alirkanlah ia menjadi roti bagi yang lapar dan kelegaan bagi yang tertindas. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →