‹ Semua renungan

Minggu, 27 Februari 2028

Kalimat Sebelum Komuni

Setiap kali merayakan Ekaristi, sesaat sebelum komuni, seluruh gereja mengucapkan kalimat yang sama: ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh. Banyak dari kita menghafalnya sejak kecil. Yang jarang kita sadari: kalimat paling akrab dalam misa itu bukan karangan para ahli liturgi. Ia lahir dari mulut seorang perwira Romawi, orang asing, bagian dari pasukan pendudukan, di Kapernaum.

Perwira itu mengherankan dari segala sisi. Ia menghargai hambanya yang sakit keras, padahal di zaman itu hamba mudah diganti. Ia mengasihi bangsa yang didudukinya, sampai menanggung pembangunan rumah ibadat mereka. Dan ia merasa tidak layak: tidak layak menerima Yesus di rumahnya, tidak layak pula datang sendiri kepada-Nya. Justru dari rasa tidak layak itu memancar iman yang bening: katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Yesus sampai heran dan berpaling kepada orang banyak: iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel.

Bacaan pertama seakan menubuatkannya jauh sebelumnya. Ketika mentahbiskan Bait Allah, Salomo berdoa khusus untuk orang asing yang datang dari negeri jauh: dengarkanlah dia di surga, supaya segala bangsa di bumi mengenal nama-Mu. Sejak awal rumah Allah dimaksudkan berpintu lebar. Iman bukan milik satu bangsa atau satu kalangan; ia bisa mekar di tempat yang paling tidak kita duga, bahkan pada orang yang kita anggap di luar pagar.

Minggu lalu Yesus mengajar bahwa setiap pohon dikenal pada buahnya. Perwira ini contohnya yang hidup: buah kasihnya kepada hamba dan kepada rakyat jelata membuktikan akar imannya, bahkan sebelum ia mengucapkan sepatah kata pun kepada Yesus. Sementara Paulus, dalam suratnya kepada jemaat Galatia, mengingatkan sisi sebaliknya: Injil bisa diputarbalikkan justru oleh orang dalam, oleh kita yang merasa paling tahu. Yang di luar bisa lebih beriman daripada yang di dalam. Itu peringatan yang menyehatkan bagi kita yang sudah lama duduk di bangku gereja.

Maka minggu ini, ketika kalimat perwira itu kembali kita ucapkan menjelang komuni, jangan biarkan ia lewat sebagai hafalan. Ucapkanlah dengan hatinya: rendah hati yang tahu diri, sekaligus percaya penuh bahwa sepatah sabda Yesus cukup untuk menyembuhkan segalanya.

Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya. Tetapi bersabdalah saja, maka jiwaku akan sembuh. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →