Sabtu, 26 Februari 2028
Menerima seperti Anak
Perhatikan anak kecil menerima pemberian. Ia mengulurkan dua tangan, matanya berbinar, lalu langsung menikmatinya. Ia tidak bertanya berapa harganya, tidak curiga ada maunya, tidak sibuk memikirkan balasannya.
Orang dewasa perlahan kehilangan seni itu. Kita menerima sambil sungkan, buru-buru menghitung utang budi, atau menolak halus karena gengsi. Diberi pun kita ingin tetap merasa mampu sendiri.
Kemarin Yesus berbicara tentang kesetiaan perkawinan; hari ini orang-orang membawa anak-anak kecil kepada-Nya, dan para murid memarahi mereka. Mungkin maksud murid baik: Guru sibuk, urusan besar menanti. Tetapi Yesus justru marah kepada murid-Nya: biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka. Lalu Ia memberi ukuran yang berlaku untuk semua orang: barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.
Kerajaan Allah memang tidak bisa dibeli, ditukar jasa, atau dicapai dengan prestasi. Ia hanya bisa diterima, dengan dua tangan terbuka dan hati yang tidak malu diberi. Barangkali itulah doa yang paling perlu kita pelajari ulang: bukan berjuang supaya layak, melainkan berlatih menerima.
Bapa, peluklah aku seperti Yesus memeluk anak-anak itu. Ajarilah aku menerima kasih-Mu tanpa syarat dan tanpa gengsi. Amin.