Jumat, 25 Februari 2028
Sepatah Ya
Di depan altar, janji perkawinan diucapkan dengan kata-kata yang pendek saja. Intinya sepatah kata: ya. Tetapi sepatah kata itu ditagih seumur hidup, dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit.
Kemarin Yakobus menghardik orang kaya yang menindas; hari ini nasihatnya turun ke hal yang tampak sepele namun menentukan: perkataan. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya; jika tidak, katakan tidak. Orang yang jujur tidak membutuhkan sumpah bertingkat-tingkat, sebab kata-katanya sendiri sudah bisa dipegang.
Dalam Injil, orang Farisi datang membawa soal perceraian, mencari celah hukum. Bolehkah? Musa memberi izin. Yesus tidak ikut bermain pasal. Ia melompat jauh ke belakang, ke awal penciptaan: Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan; keduanya menjadi satu daging; apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Bagi Yesus, perkawinan bukan kontrak yang dicari celahnya, melainkan karya Allah yang dijaga.
Kesetiaan memang bukan perasaan yang bertahan dengan sendirinya. Ia adalah ya yang diucapkan ulang setiap pagi, dalam perkara-perkara kecil: kesabaran, permintaan maaf, kesediaan mendengarkan. Dan bagi setiap ya yang berat, rahmat Allah tersedia.
Tuhan, Engkau setia pada janji-Mu. Ajarilah aku setia pada kataku sendiri, terutama pada ya yang pernah kuucapkan di hadapan-Mu. Amin.