‹ Semua renungan

Kamis, 24 Februari 2028

Upah yang Berteriak

Sore hari, buruh harian berdiri menunggu upahnya dihitung. Bagi banyak keluarga, uang sore itu adalah nasi malam ini. Menahannya sehari saja berarti ada anak yang tidur lapar.

Kemarin Yakobus menegur kesombongan orang yang merasa memiliki waktu; hari ini tegurannya beralih ke harta, dan nadanya sekeras para nabi: hai kamu orang-orang kaya, menangislah! Kekayaanmu sudah busuk, pakaianmu dimakan ngengat, emas perakmu berkarat dan karatnya menjadi kesaksian terhadap kamu. Lalu kalimat yang menggetarkan: upah yang kamu tahan dari para penuai ladangmu berteriak, dan teriakan itu telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam. Menurut Kitab Suci, uang yang ditahan secara tidak adil itu bersuara. Dan Allah mendengarnya.

Injil memperlihatkan telinga Allah yang sama teliti untuk arah sebaliknya: barangsiapa memberi kamu minum secangkir air saja karena kamu pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya. Jeritan buruh yang ditindas didengar-Nya; gelas air yang diberikan diam-diam pun dicatat-Nya.

Timbangan Allah sedetail itu. Maka periksalah timbangan kita: adakah hak orang kecil yang masih tertahan di tangan kita, sekecil apa pun bentuknya?

Tuhan, jadikan tanganku cepat membayar yang menjadi hak sesamaku, dan ringan memberi yang menjadi berkat baginya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →