Senin, 21 Februari 2028
Doa Setengah Percaya
Tidak ada yang lebih meletihkan daripada mengasihi tanpa bisa menolong. Ayah dalam Injil hari ini memikul keletihan itu bertahun-tahun: anaknya kerasukan sejak kecil, berkali-kali dibanting ke api dan ke air. Bahkan para murid Yesus pun gagal mengusirnya.
Maka permohonannya terdengar ragu: jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami. Yesus menangkap kata itu dan memantulkannya kembali: katamu, jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya. Lalu keluarlah dari mulut ayah itu doa yang barangkali paling jujur di seluruh Injil: aku percaya, tolonglah aku yang tidak percaya ini.
Doa itu melegakan kita. Ternyata iman dan ragu bisa tinggal serumah, dan Yesus tidak menolaknya. Ia tidak menunggu iman kita bulat sempurna; separuh yang jujur lebih berharga daripada seratus persen yang pura-pura. Orang Jawa mengenal sikap sumeleh: berserah dengan tenang, membawa diri apa adanya ke hadapan Tuhan.
Ketika para murid bertanya mengapa mereka gagal, jawab Yesus singkat: jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa. Bukan teknik, bukan kata sakti. Hanya hati yang terus-menerus bersandar.
Tuhan, aku percaya. Tolonglah bagian diriku yang masih ragu, dan jangan lepaskan tanganku. Amin.