Minggu, 20 Februari 2028
Ayakan
Di dapur-dapur lama selalu ada ayakan. Tepung dituang, ayakan digoyang, dan terjadilah pemisahan yang jujur: yang halus turun, kerikil dan sampah tertinggal di atas. Tidak ada kerikil yang bisa berbohong di depan ayakan. Ia pasti ketahuan.
Bin Sirakh, guru bijak Israel, memakai benda dapur itu untuk manusia: kalau ayakan digoyang-goyangkan maka sampahlah yang tinggal, demikian pun keburukan manusia tinggal dalam bicaranya. Lalu ia menambahkan dua gambar lagi: perapian menguji periuk belanga penjunan, dan buah pohon menampakkan nilai ladang. Kesimpulannya berani: jangan memuji seseorang sebelum ia bicara, sebab justru itulah batu ujian manusia. Bagi Sirakh, mulut adalah ayakan yang menyaring isi hati keluar untuk dilihat semua orang.
Minggu lalu kita mendengar Yesus memerintahkan kasih kepada musuh. Hari ini, masih dalam khotbah yang sama di tempat yang datar, Ia memakai logika Sirakh dan menajamkannya. Tidak ada pohon baik menghasilkan buah tidak baik; setiap pohon dikenal pada buahnya; yang diucapkan mulut meluap dari hati. Kata-kata kita bukan bungkus, melainkan luapan. Sindiran yang gampang keluar, keluhan yang itu-itu saja, kabar miring yang gurih dibagikan: semuanya bercerita tentang perbendaharaan macam apa yang kita simpan di dalam.
Karena itu pula Yesus menegur kegemaran kita menjadi pengawas mata orang lain. Mengapa engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Urutannya harus dibalik: keluarkanlah dahulu balok dari matamu. Pertobatan selalu mulai dari halaman sendiri. Orang yang rajin menggoyang ayakan untuk orang lain sering lupa mengayak dirinya sendiri.
Paulus menutup rangkaian bacaan dengan nada kemenangan: maut telah ditelan, berdirilah teguh, jangan goyah, sebab dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. Membersihkan hati memang jerih payah seumur hidup. Tetapi dalam Tuhan, tak sebutir pun usaha itu terbuang.
Pekan ini cobalah ujian yang sederhana: dengarkan kata-kata sendiri selama sehari penuh, seperti orang menampung hasil ayakan. Itu cara paling cepat mengenali isi hati yang sebenarnya, dan tempat paling tepat memulai pembersihan.
Tuhan, murnikanlah perbendaharaan hatiku, supaya yang meluap dari mulutku adalah buah yang manis bagi sesamaku. Amin.