Rabu, 16 Februari 2028
Bercermin Lalu Lupa
Setiap pagi kita berdiri di depan cermin. Merapikan rambut, memeriksa wajah. Lalu pergi, dan lima menit kemudian tidak lagi memikirkan rupa sendiri.
Yakobus, yang suratnya kita baca berturut-turut pekan ini, memakai adegan harian itu sebagai perumpamaan yang menohok: orang yang mendengar firman tetapi tidak melakukannya, sama seperti orang yang mengamati mukanya di depan cermin; baru saja memandang, ia pergi dan lupa bagaimana rupanya. Firman memang cermin. Ia memperlihatkan wajah kita yang sesungguhnya: mana yang kotor, mana yang perlu dibenahi. Tetapi cermin tidak pernah bisa membasuh. Yang membasuh adalah tindakan: menjadi pelaku firman, bukan pendengar saja.
Injil memberi gambar pendampingnya. Kemarin Yesus bertanya kepada para murid: masihkah kamu belum mengerti? Hari ini seorang buta di Betsaida disembuhkan bertahap. Sentuhan pertama, ia melihat orang seperti pohon berjalan. Sentuhan kedua, barulah semuanya jelas. Penglihatan iman pun tumbuh berangsur: makin sering firman dilakukan, makin jernih kita melihat.
Hari ini bacalah firman seperti bercermin, lalu jangan buru-buru pergi. Tanyakan satu hal: apa yang harus kulakukan sesudah ini?
Tuhan, jangan biarkan aku puas menjadi pendengar. Sentuhlah mataku sekali lagi, sampai aku melihat jelas dan melangkah. Amin.