‹ Semua renungan

Minggu, 13 Februari 2028

Tombak di Sebelah Kepala

Kesempatan itu datang tengah malam. Saul, raja yang bertahun-tahun memburu Daud dengan tiga ribu tentara pilihan, kini tergeletak tidur tak berdaya. Tombaknya sendiri terpancang di tanah dekat kepalanya. Abisai berbisik penuh semangat: Allah telah menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu; izinkan aku menancapkannya, satu tikaman saja, tidak usah dua kali.

Semua alasan tersedia malam itu. Saul jahat, Daud korban. Ini bisa disebut pembelaan diri, bahkan penyelenggaraan ilahi. Tetapi Daud menolak: siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi Tuhan dan bebas dari hukuman? Ia hanya mengambil tombak dan kendi sebagai bukti, lalu berseru dari puncak gunung: Tuhan menyerahkan engkau ke tanganku, tetapi aku tidak mau menjamahmu. Malam itu Daud mengalahkan musuh yang jauh lebih sulit daripada Saul: dendamnya sendiri.

Minggu lalu Yesus memaklumkan Sabda Bahagia di tempat yang datar. Hari ini, masih dalam khotbah yang sama, Ia menajamkannya sampai ke titik paling sukar: kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, berdoalah bagi yang mencaci kamu. Lalu tiga kali Ia bertanya: apakah jasamu, kalau kamu hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu? Orang berdosa pun bisa begitu. Kasih kristiani baru mulai justru di tempat kasih biasa berhenti: pada orang yang tidak layak menerimanya.

Paulus memberi dasarnya. Ada manusia dari debu tanah dan ada manusia dari surga; kita telah memakai rupa yang alamiah dan dipanggil memakai rupa yang surgawi. Membalas adalah naluri debu. Mengampuni adalah napas surga. Setiap kali kita menahan diri dari membalas, diam-diam kita sedang mengenakan rupa Kristus. Orang Jawa punya pepatah yang searah: wani ngalah luhur wekasane, berani mengalah akan mulia pada akhirnya.

Pekan ini hampir pasti ada tombak tergeletak di dekat kita: kesempatan menyindir, membalas pesan dengan pedas, menyebarkan aib orang yang pernah melukai kita. Satu tikaman saja, bisik dunia. Jangan, bisik Injil. Sebab ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan diukurkan kepada kita.

Bapa yang murah hati, cabutlah dendam dari hatiku. Jadikan aku anak-Mu yang berani mengasihi tanpa menghitung siapa yang layak. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →