‹ Semua renungan

Jumat, 11 Februari 2028

Telinga Dulu, Baru Lidah

Perhatikan percakapan di banyak meja makan atau ruang rapat: semua orang sibuk bicara, hampir tidak ada yang sungguh mendengar. Kita bukan mendengarkan, kita hanya menunggu giliran bicara.

Kemarin kita mengagumi iman ibu Siro-Fenisia. Yesus masih berkeliling di wilayah asing yang sama ketika orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan gagap. Yesus memisahkannya dari keramaian, memasukkan jari ke telinganya, menengadah ke langit, menarik napas, dan berkata: Efata, terbukalah.

Urutan mukjizat itu penuh makna. Telinga terbuka lebih dahulu, sesudah itu barulah pengikat lidahnya terlepas dan ia berkata-kata dengan baik. Memang begitulah hukumnya: orang hanya bisa berbicara sebaik ia mendengar. Kata yang tidak lahir dari mendengar biasanya hanya bising. Iman pun, kata Kitab Suci, timbul dari pendengaran. Maka doa yang paling matang bukan yang paling banyak kata, melainkan yang paling banyak diam.

Barangkali yang paling perlu disembuhkan hari ini bukan lidah kita, melainkan telinga kita: bagi suara Tuhan, dan bagi suara orang serumah yang lama tidak kita dengarkan sungguh-sungguh.

Tuhan, ucapkanlah Efata atas telingaku, supaya kata-kataku lahir dari mendengarkan Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →