Kamis, 10 Februari 2028
Dua Perempuan yang Tidak Menyerah
Hujan badai bisa datang tepat waktu. Kisah lama menuturkan Santa Skolastika, saudari Santo Benediktus, memohon kakaknya tinggal semalam lagi untuk berbincang tentang surga. Benediktus menolak; aturan biara memanggilnya pulang. Skolastika menundukkan kepala, berdoa, dan seketika hujan badai turun sederas-derasnya hingga tak seorang pun dapat keluar. Kata Gregorius Agung: ia lebih berkuasa karena ia lebih mencintai.
Kemarin kita mendengar Yesus mengajarkan bahwa yang menajiskan keluar dari dalam hati. Hari ini kita bertemu hati yang justru meluapkan iman: seorang ibu Siro-Fenisia, orang asing, yang anaknya dirasuki roh jahat. Jawaban Yesus terdengar keras: tidak patut roti anak-anak dilemparkan kepada anjing. Ibu itu tidak tersinggung dan tidak mundur. Benar, Tuhan, tetapi anjing di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak. Karena kata-katamu itu, jawab Yesus, pulanglah; setan sudah keluar dari anakmu.
Dua perempuan, dua zaman, satu rahasia: kasih yang berdoa tidak tahu menyerah. Dan Allah rupanya senang dikalahkan oleh doa semacam itu.
Tuhan, berilah aku iman yang gigih seperti mereka: tetap mengetuk ketika pintu terasa tertutup. Amin.