Rabu, 9 Februari 2028
Setengahnya Pun Belum
Di warung kopi, kabar berpindah cepat dan bertambah bumbu. Orang bijak tahu: kabar harus diuji. Ratu Syeba termasuk yang bijak itu. Mendengar kemasyhuran Salomo, ia tidak puas berkomentar dari jauh. Ia berkemas, menempuh perjalanan jauh melintasi padang, membawa segala pertanyaan yang ada dalam hatinya.
Sampai di Yerusalem, ia menguji Salomo dengan teka-teki, mengamati meja makannya, cara para pegawainya bekerja. Lalu keluarlah pengakuan yang jujur: aku tidak percaya sebelum melihat dengan mataku sendiri; ternyata setengahnya pun belum diberitahukan kepadaku. Kenyataan melampaui kabar.
Iman kita pun sering berhenti pada tahap kabar. Kita mengenal Yesus dari katanya dan katanya: kata guru agama, kata khotbah, kata buku. Semua itu baik sebagai awal, tetapi belum perjumpaan. Kemarin Yesus menegur ibadat bibir yang hatinya jauh; ratu dari selatan ini kebalikannya: hatinya berangkat mencari sampai bertemu. Begitulah langkah berikut iman: bertanya sendiri, mengalami sendiri, dalam doa yang sungguh, dalam Sabda yang dibaca pelan-pelan, dalam Ekaristi.
Dan siapa sungguh datang akan pulang dengan pengakuan yang sama: setengahnya pun belum pernah diceritakan orang kepadaku.
Tuhan, jangan biarkan aku puas mengenal-Mu dari kabar. Tariklah aku datang dan mengalami Engkau sendiri. Amin.