Selasa, 8 Februari 2028
Rumah yang Terlalu Kecil
Siapa pernah pindahan rumah tahu rasanya: lemari yang dulu pas, ternyata tidak muat di rumah baru. Kita lalu sibuk mengukur ulang segalanya. Manusia memang suka menakar, termasuk diam-diam menakar Allah.
Kemarin kita mendengar tabut perjanjian diarak masuk dan awan kemuliaan memenuhi Bait yang baru dibangun. Hari ini, di puncak peresmian itu, Salomo justru mengucapkan kalimat yang mengejutkan: sesungguhnya langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. Sang pembangun sadar bangunannya terlalu kecil. Bait itu bukan kurungan bagi Allah, melainkan tempat perjumpaan yang Ia pilih karena kasih.
Dalam Injil, Yesus meneruskan koreksi itu ke arah lain. Orang Farisi mengurung Allah bukan dalam gedung, melainkan dalam adat: cuci tangan, cuci cawan, cuci kendi. Kata Yesus, bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
Allah tidak muat dalam gedung dan tidak puas dengan upacara. Satu-satunya ruang yang Ia rindukan justru yang paling sering terkunci: hati kita.
Tuhan yang tidak termuat oleh langit, herannya Engkau mau tinggal dalam hatiku. Masuklah, dan jadikan ia rumah-Mu. Amin.