‹ Semua renungan

Minggu, 6 Februari 2028

Akar

Pada puncak kemarau, dua pohon di pinggir jalan bisa bernasib beda. Yang satu meranggas, daunnya rontok satu-satu. Yang lain tetap hijau seperti tidak tahu musim. Dari atas keduanya tampak sama-sama pohon. Bedanya tidak kelihatan mata, sebab bedanya ada di bawah tanah: seberapa dalam akar menemukan air.

Yeremia memakai gambar itu untuk membelah manusia menjadi dua. Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri; ia seperti semak bulus di padang belantara. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan; ia seperti pohon di tepi air, tidak kuatir dalam tahun kering, tidak berhenti menghasilkan buah. Perhatikan baik-baik: Yeremia tidak menjanjikan bebas kemarau. Panas terik tetap datang bagi kedua pohon. Yang membedakan bukan cuacanya, melainkan akarnya.

Dengan kunci itu Sabda Bahagia hari ini menjadi lebih terang. Yesus turun ke tempat yang datar, memandang murid-murid-Nya, lalu mengucapkan kata-kata yang membalik akal sehat: berbahagialah kamu yang miskin, yang lapar, yang menangis. Celakalah kamu yang kaya, yang kenyang, yang tertawa, yang dipuji semua orang. Apakah Yesus memuji penderitaan? Bukan. Ia membongkar ilusi. Kekayaan, kekenyangan, dan tepuk tangan adalah daun hijau yang bisa menipu; daun serupa itu bisa tumbuh pada pohon yang akarnya sudah putus. Sebaliknya orang miskin yang berharap penuh kepada Allah sedang merambatkan akarnya ke batang air yang tidak pernah kering.

Minggu lalu kita mendengar Paulus menegaskan bahwa Kristus sungguh bangkit. Hari ini ia melanjutkan dengan nada keras: jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah kepercayaan kita, dan kita ini orang paling malang dari segala manusia. Paulus jujur: kalau harapan kita hanya untuk hidup ini saja, memang lebih masuk akal menjadi kaya, kenyang, dan tertawa selagi bisa. Kebangkitan itulah air bawah tanah yang membuat Sabda Bahagia bukan hiburan kosong, melainkan taruhan yang berani.

Maka pertanyaan minggu ini sederhana namun dalam: ke mana akar kita merambat? Kepada apa kita sungguh bersandar ketika tahun kering datang: tabungan, koneksi, nama baik, atau Tuhan yang hidup?

Tuhan, tanamlah aku di tepi air-Mu. Biar musim boleh berganti, jangan biarkan akarku menjauh dari Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →