‹ Semua renungan

Rabu, 26 Januari 2028

Estafet

Hari ini Gereja mengenang Timotius dan Titus, dua orang muda yang menjadi anak rohani Rasul Paulus. Keduanya tidak menjadi murid karena kebetulan. Iman ditanamkan dalam diri mereka oleh tangan orang lain, lalu mereka meneruskannya kepada jemaat yang mereka gembalakan. Iman memang bukan barang yang muncul sendiri; ia diwariskan, dari tangan ke tangan.

Injil hari ini adalah perumpamaan penabur. Seorang penabur keluar menabur benih, dan benih itu jatuh di berbagai jenis tanah. Yang menarik, sang penabur tidak menanam pohon yang sudah jadi. Ia menabur benih, sesuatu yang kecil, yang hasilnya baru kelihatan jauh kemudian, bahkan mungkin setelah ia tiada.

Begitulah cara iman berpindah antargenerasi. Seorang nenek yang mengajari cucunya membuat tanda salib. Seorang katekis yang sabar menemani anak-anak yang ribut. Seorang ayah yang mengajak keluarganya berdoa sebelum tidur. Mereka menabur benih tanpa selalu sempat melihat buahnya. Timotius sendiri, kata Paulus, menerima iman lebih dulu dari nenek dan ibunya.

Bacaan pertama meneguhkan pola ini. Tuhan berjanji kepada Daud untuk membangun keturunan baginya, sebuah rumah yang bertahan melampaui usianya sendiri. Yang kekal bukan yang kita nikmati sekarang, melainkan yang kita teruskan.

Kepada siapa iman diteruskan lewat kita? Anak, keponakan, murid, tetangga muda? Kita mungkin tidak akan menyaksikan panen penuhnya. Tetapi tugas penabur memang menabur, bukan menuai.

Tuhan, jadikan aku penabur yang setia, yang meneruskan iman kepada mereka yang datang sesudahku. Biarlah benih yang kutabur hari ini berbuah, sekalipun aku tak sempat melihatnya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →