‹ Semua renungan

Minggu, 23 Januari 2028

Kagum Belum Tentu Kasih

Minggu lalu kita berhenti tepat pada saat yang menegangkan. Di rumah ibadat Nazaret, Yesus membaca nubuat Yesaya lalu berkata, "Pada hari ini genaplah nas ini." Hari ini kita mendengar kelanjutannya, dan kelanjutannya mengejutkan.

Mula-mula reaksi orang sekampung tampak baik. "Semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya." Mereka kagum. Tetapi hanya beberapa ayat kemudian, kekaguman itu berubah menjadi amarah, sampai-sampai mereka menyeret Yesus ke tebing gunung hendak melempar-Nya. Dari memuji ke hendak membunuh, hanya dalam satu percakapan.

Apa yang terjadi? Selama Yesus memuji telinga mereka, mereka senang. Begitu Ia menyinggung bahwa rahmat Allah juga mengalir kepada orang luar, kepada janda di Sarfat dan Naaman orang Siria, kekaguman mereka runtuh. Ternyata mereka mengagumi Yesus selama Ia menyenangkan mereka, bukan mengasihi Dia apa adanya.

Di sinilah bacaan kedua menjadi cermin yang tajam. "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang." Orang Nazaret penuh kekaguman, tetapi kosong dari kasih. Dan kasih, kata Paulus, "sabar menanggung segala sesuatu", tidak mudah tersinggung, tidak menyimpan kesalahan. Kekaguman bisa runtuh dalam sekejap begitu tidak dipuaskan; kasih justru bertahan bahkan ketika dikecewakan.

Kita perlu jujur, sebab kekeliruan Nazaret sangat mudah menjadi kekeliruan kita. Kita pun senang kepada Tuhan selama Ia memenuhi keinginan kita. Doa dikabulkan, kita memuji. Hidup terasa berat, kita kecewa dan menjauh. Itu tanda bahwa kita masih di tahap kagum, belum sampai tahap kasih. Kagum menuntut Tuhan menyenangkan kita; kasih tetap setia meski Tuhan menantang kita.

Yeremia dalam bacaan pertama menunjukkan wajah kasih yang dewasa. Dipanggil sejak muda, ia diutus mengatakan hal-hal yang tidak disukai orang. Tuhan berjanji, "Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau." Mengasihi Tuhan berarti berani setia bahkan ketika kesetiaan itu tidak populer, bahkan ketika ia membawa kita ke tebing seperti Yesus.

Maka pertanyaan hari ini sederhana tetapi menusuk: apakah aku mengagumi Tuhan, atau mengasihi-Nya? Yang pertama bertahan selama aku senang. Yang kedua bertahan sampai ke salib.

Tuhan, bawalah aku melampaui kekaguman yang mudah goyah menuju kasih yang setia. Ajarilah aku mengasihi-Mu bukan hanya saat Engkau menyenangkanku, tetapi juga saat Engkau menantangku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →