Sabtu, 22 Januari 2028
Meratapi Musuh
Ada ujian karakter yang jarang disadari: bagaimana sikap kita ketika orang yang memusuhi kita jatuh. Diam-diam, hati kecil sering bersorak, "rasakan." Kita merasa itu keadilan. Padahal di situlah tersembunyi salah satu keburukan hati yang paling halus.
Daud melewati ujian itu dengan cara yang mengagumkan. Saul, yang bertahun-tahun memburunya hendak membunuhnya, akhirnya gugur di medan perang. Bagi Daud, ini seharusnya kabar pembebasan. Musuhnya lenyap, jalan menuju takhta terbuka. Tetapi apa yang ia lakukan? Ia mengoyakkan pakaiannya, berpuasa, dan meratap.
Ratapannya bahkan menjadi salah satu syair paling indah dalam Kitab Suci: "Betapa gugur para pahlawan!" Ia menangisi Yonatan sahabatnya, dan menangisi Saul juga, orang yang pernah ingin membunuhnya. Tak ada satu kata pun yang menghina. Tak ada sorak kemenangan. Hanya duka yang tulus.
Daud mengerti sesuatu yang mudah kita lupakan: kejatuhan siapa pun, bahkan musuh, bukan alasan untuk berpesta. Setiap orang yang gugur tetaplah manusia, tetaplah kehilangan bagi dunia.
Ketika kita mendengar kabar buruk tentang orang yang tidak kita sukai, di situlah hati kita diuji. Apakah kita ikut Daud yang meratap, atau ikut suara kecil yang bersorak?
Tuhan, jagalah hatiku agar tidak bersorak atas kejatuhan siapa pun, bahkan mereka yang menyakitiku. Berilah aku hati Daud, yang mampu meratapi musuhnya sendiri. Amin.