Jumat, 21 Januari 2028
Punca Jubah
Hari ini Gereja mengenang Santa Agnes, gadis belia Roma yang memilih setia kepada Kristus sampai mati muda, dan tidak membalas kekerasan yang menimpanya dengan kebencian. Keberanian terbesarnya bukan menyerang, melainkan menahan diri. Bacaan pertama hari ini bercerita tentang keberanian jenis yang sama.
Daud sedang diburu Saul yang hendak membunuhnya tanpa alasan. Lalu kesempatan emas itu datang: Saul masuk sendirian ke gua tempat Daud dan orang-orangnya bersembunyi. Anak buah Daud berbisik, inilah saatnya. Sekali tikam, semua penderitaan selesai. Siapa pun akan menyebutnya pembelaan diri yang wajar.
Tetapi Daud hanya memotong ujung jubah Saul diam-diam, dan bahkan untuk itu "berdebar-debarlah hatinya." Ia berkata, "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada orang yang diurapi TUHAN." Ia punya kuasa untuk membalas, tetapi memilih tidak memakainya.
Inilah bentuk kekuatan yang paling langka: kekuatan yang menahan diri. Mudah membalas ketika kita di atas angin. Jauh lebih sulit mengampuni ketika musuh sudah tak berdaya di tangan kita. Daud membiarkan Tuhan yang menjadi hakim, bukan pedangnya sendiri.
Mungkin hari ini ada punca jubah yang bisa kita potong: kesempatan membalas yang kita relakan, kata-kata tajam yang bisa kita ucapkan tetapi kita tahan. Menahan diri bukan tanda kelemahan; sering justru itu kemenangan yang paling sunyi.
Tuhan, ketika aku punya kuasa untuk membalas, berilah aku hati Daud yang memilih menahan diri. Seperti Santa Agnes, ajarilah aku bahwa setia dan mengampuni lebih kuat daripada membalas. Amin.