Kamis, 20 Januari 2028
Sawang Sinawang
Orang Jawa punya ungkapan yang dalam, urip iku mung sawang sinawang, hidup itu hanya soal saling memandang. Dari luar, hidup orang lain selalu tampak lebih cerah, dan hidup kita tampak lebih suram. Padahal kalau ditukar, belum tentu kita sanggup memikul beban mereka. Dari kejauhan, rumput tetangga memang selalu lebih hijau.
Saul terjerat justru oleh pandangan semacam itu. Sepulang perang, para perempuan menyanyi, "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa." Satu baris lagu, dan hati raja itu keruh. "Bangkitlah amarah Saul." Sejak hari itu, kata Alkitab, "Saul selalu mendengki Daud." Perbandingan mengubah seorang pahlawan menjadi pemburu.
Yang menyedihkan, Saul punya segalanya: mahkota, kuasa, pasukan. Tetapi satu baris pujian bagi orang lain sanggup meracuni semuanya. Begitulah iri hati bekerja. Ia tidak mengurangi apa pun dari kita secara nyata, tetapi ia merampas sukacita kita atas apa yang sudah kita miliki.
Kita hidup di zaman yang membuat perbandingan makin mudah. Setiap hari kita melihat pencapaian orang lain terpajang, dan diam-diam bertanya mengapa bagian kita terasa kurang. Padahal yang kita lihat hanya panggungnya, bukan air matanya.
Lawan dari iri bukan merasa lebih hebat, melainkan bersyukur. Orang yang bersyukur tidak punya waktu menghitung milik orang lain, sebab ia sibuk mensyukuri miliknya sendiri.
Tuhan, bebaskanlah aku dari penjara sawang sinawang, yang membuatku iri pada hidup orang lain dan buta pada berkat-Mu sendiri. Ajarilah aku bersukacita atas kebaikan yang Kauberikan kepada sesamaku. Amin.