‹ Semua renungan

Selasa, 18 Januari 2028

Bukan Paras

Kita menilai buku dari sampulnya, meski sejak kecil diajari sebaliknya. Orang yang berpakaian rapi kita anggap lebih mampu. Yang tinggi tegap kita kira lebih berwibawa. Dalam sekejap, tanpa sadar, kita sudah memberi nilai hanya dari yang tampak di permukaan.

Samuel pun begitu. Ketika ia datang untuk mengurapi raja baru dari antara anak-anak Isai, matanya langsung tertuju pada Eliab yang gagah dan tinggi. "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya," pikirnya. Tetapi Tuhan menegurnya dengan kalimat yang layak kita hafal: "Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Satu per satu ketujuh anak Isai lewat, semuanya ditolak. Yang terpilih justru yang tidak diperhitungkan, si bungsu yang sedang menggembalakan kambing domba, sampai-sampai tadinya tidak dipanggil ke perjamuan. Daud, anak yang paling mudah dilupakan, dialah yang dipilih Allah.

Ini menegur dua sisi hati kita. Pertama, cara kita menilai orang lain: berapa banyak orang kita coret dari daftar hanya karena penampilannya, padahal Tuhan mungkin melihat hati yang indah di sana. Kedua, cara kita menilai diri sendiri: kita sering merasa kurang layak karena tidak menonjol, padahal yang Tuhan timbang bukan paras, melainkan hati.

Mata Allah menembus lebih dalam dari mata kita. Syukurlah, sebab kalau Ia menilai seperti kita menilai, mungkin tak seorang pun terpilih.

Tuhan, Engkau melihat hati, bukan paras. Bersihkanlah hatiku, dan ajarilah aku memandang sesama sedalam Engkau memandang mereka. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →