Jumat, 7 Januari 2028
Genggaman
Cobalah menggenggam air di telapak tangan. Semakin erat kepalan, semakin cepat air itu habis merembes. Ada hal-hal yang justru hilang bila digenggam terlalu kuat: air, pasir, dan rupanya juga kekuasaan.
Herodes adalah potret orang yang menggenggam terlalu erat. Mendengar kabar tentang seorang raja yang baru lahir, ia "terkejut, dan seluruh Yerusalem bersama dia." Perhatikan betapa terbaliknya reaksi itu. Kabar kelahiran mestinya membawa sukacita. Tetapi bagi orang yang takut kehilangan, kabar baik apa pun terdengar sebagai ancaman. Bayi mungil di Betlehem pun ia rasakan sebagai saingan.
Maka Herodes memakai bahasa yang manis untuk maksud yang gelap. "Kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia," katanya kepada para majus. Kata-katanya rohani, hatinya membunuh. Ketakutan memang pandai menyamar sebagai kesalehan.
Kita jarang sekejam Herodes, tetapi genggaman itu tidak asing. Kita menggenggam jabatan, gengsi, kendali atas orang lain, dan diam-diam merasa terancam oleh siapa pun yang tampak menanjak. Bahkan kebahagiaan orang lain kadang terasa mengurangi jatah kita sendiri.
Para majus mengajarkan gerak yang sebaliknya. Mereka datang justru untuk membuka tangan, "membuka tempat harta bendanya" dan mempersembahkan. Tangan yang terbuka bisa memberi dan menerima; tangan yang terkepal tidak bisa keduanya.
Tuhan, longgarkanlah genggamanku. Ajarilah aku membuka tangan seperti para majus, bukan mengepal seperti Herodes, supaya aku tak lagi takut kehilangan dan curiga pada semua orang. Amin.