Kamis, 6 Januari 2028
Tamu dari Jauh
Di kampung, kedatangan tamu dari jauh selalu menjadi peristiwa. Tikar terbaik digelar, gula disiapkan, tetangga menengok. Ada kebanggaan tersendiri bahwa rumah kecil kita didatangi orang dari tempat yang jauh. Rumah yang kedatangan tamu terasa lebih hidup daripada rumah yang selalu sepi.
Yesaya melukiskan Yerusalem yang lama muram tiba-tiba kedatangan rombongan tamu tak terhitung. "Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu." Dari seberang laut, dari Midian, dari Syeba, unta-unta datang membawa emas dan kemenyan. Kota yang tadinya merasa terbuang kini menjadi tujuan bangsa-bangsa.
Apa yang menarik mereka? Bukan kemewahan kota itu, sebab kota itu justru baru bangkit dari puing. Yang menarik mereka adalah terang: "kemuliaan TUHAN terbit atasmu." Orang datang bukan karena Yerusalem hebat, melainkan karena Allah bersinar di atasnya.
Injil menggenapinya dalam wujud yang mungil. Para majus, tamu dari Timur, menempuh jalan jauh mengikuti sebuah bintang, dan berhenti di sebuah rumah sederhana di Betlehem. Kemuliaan yang dinubuatkan Yesaya ternyata menyatu dalam seorang bayi.
Kita pun dipanggil menjadi tempat yang kedatangan tamu. Bukan karena kita kaya atau hebat, melainkan karena ada terang Tuhan yang boleh memancar dari hidup kita. Orang tidak tertarik pada kesempurnaan kita; mereka tertarik pada cahaya yang tak berasal dari kita sendiri.
Tuhan, terbitlah atas hidupku yang sederhana ini, supaya orang yang jauh pun boleh mendekat, bukan kepadaku, melainkan kepada terang-Mu. Amin.