Rabu, 5 Januari 2028
Di Bawah Pohon Ara
Ada pengalaman yang mengejutkan sekaligus menghangatkan: bertemu orang baru yang ternyata sudah lama memperhatikan kita. "Saya sering lihat Anda mengajar anak-anak di gereja," katanya. Kita terkejut. Kita merasa tidak dikenal, padahal diam-diam sudah diperhatikan.
Natanael mengalaminya secara ilahi. Ketika Filipus mengajaknya menemui Yesus dari Nazaret, ia menyambut sinis. Tetapi begitu berhadapan, Yesus berkata, "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kita tidak tahu apa yang Natanael lakukan di bawah pohon ara itu, mungkin berdoa, mungkin bergumul sendirian. Yang jelas, ia merasa dilihat sampai ke dasar. Dan seketika sikapnya luluh: "Rabi, Engkau Anak Allah."
Inilah yang sering luput dari kita. Kita mengira harus menarik perhatian Tuhan lebih dulu, harus cukup baik agar dilihat. Padahal Ia sudah melihat kita jauh sebelum kita menoleh kepada-Nya. Di kamar yang sepi, di pergumulan yang tak diketahui siapa pun, di bawah pohon ara masing-masing, mata-Nya sudah ada di sana.
Surat Yohanes hari ini meminta kita meneruskan tatapan itu kepada sesama: "marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan." Orang yang tahu dirinya dilihat dengan kasih akan belajar melihat orang lain dengan cara yang sama.
Tuhan, Engkau sudah melihatku di tempat yang paling tersembunyi, dan Engkau tetap memanggilku. Ajarilah aku memandang sesama dengan mata yang sama: penuh perhatian, penuh kasih. Amin.