‹ Semua renungan

Senin, 3 Januari 2028

Belum Kelihatan

Petani yang menanam benih pohon buah harus berdamai dengan satu kenyataan: ia mungkin tidak sempat memakan buahnya. Hari ini yang tampak hanya tanah dan tunas kecil. Kelak akan serimbun apa, semanis apa, belum kelihatan sama sekali.

Rasul Yohanes memakai rasa yang mirip untuk melukiskan jati diri kita. "Sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak." Perhatikan dua waktu dalam satu kalimat. Sekarang: kita sudah anak Allah, itu sudah pasti. Kelak: akan menjadi apa persisnya, masih tersembunyi. Kita ini benih yang sudah ditanam, tetapi belum berbuah penuh.

Ini menghibur sekaligus menantang. Menghibur, karena keadaan kita hari ini bukan hasil akhir; yang rapuh dan gampang jatuh belum selesai dibentuk. Menantang, karena Yohanes menambahkan bahwa kita "akan menjadi sama seperti Dia." Rupa yang sedang kita tuju adalah wajah Kristus sendiri.

Injil hari ini menunjuk wajah itu. Yohanes Pembaptis berseru, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia," dan dua kali mengaku, "aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia." Bahkan nabi terbesar pun masih dalam proses mengenali. Tak ada yang langsung jadi.

Maka bila hari ini kita belum menjadi orang kudus yang kita idamkan, jangan buru-buru putus asa. Benih tidak dihakimi karena belum berbuah. Ia hanya diminta tetap berakar. Buahnya urusan nanti; tugas kita hari ini cukup satu, tetap tertanam di dalam Dia.

Tuhan, aku belum menjadi seperti yang Kaukehendaki, tetapi aku Kaupanggil anak-Mu. Jagalah akarku tetap di dalam Engkau, dan biarkan buahnya tumbuh pada waktu-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →