‹ Semua renungan

Minggu, 2 Januari 2028

Berani Bertanya Arah

Orang yang tersesat terbagi dua macam. Yang pertama gengsi bertanya, terus melaju sambil menebak-nebak. Yang kedua berhenti, menurunkan kaca, dan bertanya kepada orang di pinggir jalan. Yang kedua sering tampak lebih bodoh, padahal justru dialah yang lebih cepat sampai.

Para majus dari Timur adalah orang-orang terpelajar. Mereka bisa membaca bintang, menghitung musim, memetakan langit. Namun sampai di Yerusalem, mereka melakukan hal yang sederhana: bertanya. "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?" Ilmu setinggi apa pun rupanya tidak membuat mereka malu untuk bertanya arah.

Bandingkan dengan orang-orang di Yerusalem. Para ahli Taurat tahu persis jawabannya: di Betlehem, lengkap dengan kutipan nabi. Pengetahuan mereka sempurna. Tetapi tak seorang pun ikut berangkat. Betlehem hanya beberapa jam berjalan kaki, dan mereka memilih tinggal. Herodes malah lebih jauh lagi: mendengar kabar kelahiran itu, ia bukan bersukacita, melainkan terkejut dan takut. Bagi orang yang menggenggam terlalu erat, bahkan kabar baik terdengar sebagai ancaman.

Inilah pesta yang aneh. Yang punya Kitab Suci diam di tempat. Yang hanya punya bintang justru menempuh gurun. Epifani, dari kata Yunani yang berarti "penampakan", merayakan Allah yang menyatakan diri bukan cuma kepada satu bangsa terpilih, melainkan kepada siapa saja yang mau mencari, sekalipun ia orang asing yang tak hafal satu ayat pun. Yesaya sudah menubuatkannya: "Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu."

Perhatikan puncak perjalanan itu. Setelah sekian jauh, para majus tidak berhenti pada rasa penasaran ilmiah. Mereka "sujud menyembah Dia." Pencarian sejati selalu berujung pada lutut yang bertekuk, bukan sekadar rasa ingin tahu yang terpuaskan. Mereka membuka kotak harta dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Orang yang sungguh menemukan tidak datang dengan tangan kosong.

Kita mudah menjadi seperti para ahli Taurat: hafal jalan tetapi tidak pernah menempuhnya, tahu di mana Tuhan tetapi tak kunjung datang menyembah. Awal tahun ini tempat yang baik untuk bertanya jujur: pengetahuan iman mana yang selama ini hanya kusimpan di kepala tanpa pernah menggerakkan kaki? Sebab iman baru menjadi iman ketika ia berani berjalan, dan berani berlutut.

Tuhan, jauhkan aku dari gengsi orang yang tahu segalanya tetapi tak melangkah ke mana-mana. Berilah aku hati para majus: rendah hati untuk bertanya, tekun untuk berjalan, dan berani untuk menyembah. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →