‹ Semua renungan

Sabtu, 1 Januari 2028

Bukan Lagi Hamba

Ada perbedaan halus antara dua kata yang sering kita anggap sama: memanggil dan menyuruh. Kepada pekerja kita menyuruh. Kepada anak kita memanggil. Yang satu berisi tugas, yang lain berisi kasih. Dan telinga kecil paling tahu bedanya, jauh sebelum ia bisa menjelaskannya.

Pada hari pertama tahun ini, Gereja meletakkan di hadapan kita sebuah kata yang mengubah segalanya. Paulus menulis kepada jemaat Galatia: "Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak." Sepanjang sejarah, manusia membayangkan Allah sebagai majikan yang harus dilayani, ditakuti, ditawar dengan korban. Lalu datang Natal, dan gambaran itu dijungkirbalikkan. Allah yang mahabesar masuk ke dunia lewat rahim seorang ibu, supaya kita yang tadinya hamba diangkat menjadi anak.

Tanda pengangkatan itu satu kata pendek: Abba. Kata paling akrab dalam bahasa anak-anak Aram, sesuatu antara "bapak" dan "ayah", kata pertama yang biasa keluar dari mulut balita. Roh yang dicurahkan ke hati kita, kata Paulus, berseru dengan kata itu. Bukan gelar yang megah, justru panggilan yang paling manja.

Injil hari ini menutup pekan Natal dengan upacara sederhana. Pada hari kedelapan Sang Bayi disunat dan diberi nama Yesus. Sejak saat itu Ia bukan sekadar "bayi di palungan", melainkan seseorang yang dipanggil dengan nama. Bukankah itu juga yang terjadi pada kita di pembaptisan? Nama kita disebut, dan atas kita diletakkan nama Tuhan, persis seperti berkat Harun: "Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel."

Di tengah semua itu berdiri Maria. Ketika para gembala datang membawa cerita yang menggemparkan, ia "menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya." Sebagai Bunda Allah, tugasnya bukan menjelaskan misteri, melainkan mengandungnya, menyusuinya, memanggil namanya setiap pagi. Ibu mana pun mengerti pekerjaan itu.

Maka kita membuka tahun ini bukan sebagai pekerja yang menghadap majikan dengan daftar tugas, melainkan sebagai anak yang dipanggil namanya. Sepanjang dua belas bulan ke depan akan banyak suara menuntut kita membuktikan diri, seakan kasih harus diupah dengan prestasi. Ingatlah kata pembuka tahun ini: bukan lagi hamba, melainkan anak. Yang satu bekerja karena takut dipecat. Yang lain bekerja karena tahu ia disayang.

Bapa, pada awal tahun ini ajarilah aku menyebut-Mu dengan mesra, Abba. Lepaskanlah aku dari hati seorang hamba yang cemas, dan berilah aku hati seorang anak yang tahu ia Kaukasihi. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →